JAKARTA – Ampas kopi telah lama dimanfaatkan sebagai bahan alami untuk membantu menunjang pertumbuhan tanaman. Dibandingkan dibuang, limbah dapur ini kerap digunakan sebagai pupuk, bahan kompos, hingga membantu mengusir sejumlah hama.

Meski memiliki berbagai manfaat, penggunaan ampas kopi tidak boleh dilakukan sembarangan. Takaran maupun cara pengaplikasiannya perlu diperhatikan agar tidak berdampak buruk pada tanaman.

Berikut enam cara menggunakan ampas kopi untuk tanaman menurut para ahli.

1. Jangan Menaburkan Ampas Kopi Terlalu Banyak

Menurut Elizabeth Murphy, penulis buku Building Soil: A Down-To-Earth Approach, penggunaan ampas kopi harus dilakukan secukupnya.

“Sedikit ampas kopi dapat memberikan tambahan nitrogen yang baik untuk tanaman, tapi jika terlalu banyak justru bisa merusak tanah dan tanaman,” ujar Murphy, seperti dikutip dari Southern Living.

Jumlah ampas kopi yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman. Karena itu, pemilik tanaman dianjurkan mengamati respons tanaman setelah pengaplikasian.

2. Gunakan pada Tanaman yang Sudah Tumbuh Kuat

Ampas kopi lebih aman diberikan kepada tanaman yang sudah berkembang dengan baik.

Murphy menyarankan agar ampas kopi tidak langsung diberikan pada bibit atau tunas karena berpotensi menghambat pertumbuhan akar maupun proses perkecambahan.

Dengan menunggu tanaman lebih kuat, nutrisi dari ampas kopi dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu fase awal pertumbuhan.

3. Campurkan ke Dalam Kompos

Salah satu cara terbaik memanfaatkan ampas kopi adalah menjadikannya bagian dari bahan kompos.

Dalam proses pengomposan dibutuhkan keseimbangan antara bahan kaya karbon atau bahan “cokelat”, seperti daun kering, koran, dan serpihan kayu, dengan bahan kaya nitrogen atau bahan “hijau”, seperti sisa buah, sayuran, cangkang telur, dan ampas kopi.

“Sederhananya, Anda hanya perlu mencapai rasio 1:3 antara bahan hijau dan cokelat, berdasarkan volume,” kata Leslie F. Halleck, ahli hortikultura profesional.

Komposisi yang tidak seimbang dapat memperlambat proses penguraian kompos.