Oleh: Wenny Desta Amelia
Pasca kerusuhan besar Agustus 2025 yang kini dikenal sebagai “Prahara Agustus”, Indonesia tengah dihadapkan pada krisis kepercayaan paling dalam antara aparat keamanan dan masyarakat sipil.
Demonstrasi yang awalnya menolak kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR di tengah beban ekonomi rakyat yang berat, dengan cepat berubah menjadi kekerasan massal di Jakarta dan beberapa daerah lain. Kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tertabrak kendaraan taktis Brimob pada 28 Agustus 2025, menjadi simbol kesedihan sekaligus kemarahan kolektif masyarakat kecil yang merasa negara tidak lagi melindungi mereka.
Bukan sekadar bentrokan sporadis, Prahara Agustus merupakan ledakan dari konflik struktural yang telah lama terpendam: ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial, dan pendekatan aparat yang dianggap represif. Kini, hubungan antara negara dan warga dicemari saling ketidakpercayaan yang akut. Aparat cenderung memandang massa demonstran sebagai ancaman stabilitas yang harus diredam dengan kekuatan, sementara masyarakat semakin melihat aparat sebagai alat represi yang melindungi kepentingan elite.
Dalam perspektif perubahan sosial, peristiwa ini adalah konsekuensi logis dari transformasi masyarakat Indonesia yang berjalan sangat cepat urbanisasi masif, ketimpangan pasca-pandemi, serta peran media sosial yang memobilisasi gerakan namun belum diimbangi dengan reformasi institusi keamanan yang masih menggunakan pendekatan lama yang represif.
Membaca Prahara Agustus Melalui Teori Konflik Karl Marx

