JAKARTA — Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran dinilai dipengaruhi kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat berkembang menjadi perang yang lebih luas.

Penilaian itu disampaikan Senior Fellow Middle East Institute Ross Harrison setelah Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap Iran dengan syarat kesepakatan antara Washington dan Teheran dapat segera tercapai.

Harrison mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan alasan pasti di balik keputusan Trump menunda operasi militer tersebut.

Menurut dia, belum diketahui pula komitmen apa yang kemungkinan telah disampaikan Iran kepada AS melalui komunikasi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan pejabat Turki, Arab Saudi, dan Pakistan.

Namun, dari sudut pandang Teheran, Harrison menilai keputusan Trump kemungkinan akan dipersepsikan sebagai bentuk kehati-hatian karena mempertimbangkan risiko eskalasi yang dapat memicu perang lebih besar.

“Dari perspektif Iran, saya rasa mereka kemungkinan akan menilai Donald Trump berkedip karena adanya potensi risiko eskalasi,” kata Harrison kepada Al Jazeera.

Ia menilai pola tersebut bukan kali pertama terjadi. Menurut Harrison, strategi Washington terhadap Iran selama ini kerap sulit diprediksi karena Trump beberapa kali mengisyaratkan akan meningkatkan operasi militer, tetapi kemudian memilih mengurungkan langkah tersebut.

Meski rencana serangan ditunda, Harrison mengingatkan keputusan itu belum dapat diartikan sebagai tanda meredanya ketegangan antara AS dan Iran.