Oleh: Garuda Sirait
Persoalan perilaku berisiko di kalangan remaja tidak lagi cukup dilihat sebagai sekadar masalah kedisiplinan atau “kenakalan anak”.
Di tengah perubahan sosial dan teknologi yang bergerak cepat, remaja tumbuh dalam lingkungan yang semakin kompleks. Mereka menghadapi pengaruh keluarga, sekolah, teman sebaya, media sosial, serta arus informasi yang nyaris tanpa batas.
Bentuk perilaku berisiko itu beragam, mulai dari membolos, merokok, perundungan, tawuran, perkelahian, penyalahgunaan narkotika hingga berbagai persoalan di ruang digital.
Tidak semuanya berujung pada persoalan hukum. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, sebagian perilaku tersebut dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Remaja memang harus bertanggung jawab atas pilihannya. Tetapi, menurut saya, tanggung jawab itu tidak seharusnya dibebankan kepada mereka seorang diri.
Remaja berada pada fase pencarian identitas. Mereka ingin diterima, didengar, diakui, sekaligus memiliki ruang untuk mencoba berbagai hal. Pada saat yang sama, kemampuan mengendalikan emosi, memperhitungkan risiko, dan mengambil keputusan belum selalu berkembang secara matang.
Karena itu, ketika seorang remaja melakukan kesalahan, pertanyaan yang muncul seharusnya bukan hanya, “Apa yang salah dengan anak ini?”
Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: “Apa yang terjadi di lingkungan yang ikut membentuk pilihan dan perilakunya?”
Menurut saya, di sinilah cara pandang kita perlu diperluas.
Kita terlalu mudah memberi label “anak nakal”, seolah-olah masalah berhenti pada diri seorang remaja. Padahal, perilaku seseorang tidak lahir di ruang kosong.
Ada keluarga. Ada sekolah. Ada teman sebaya. Ada masyarakat. Ada budaya. Dan sekarang ada ruang digital yang setiap hari ikut membentuk cara anak melihat dirinya, orang lain, bahkan dunia di sekitarnya.
Jika kita hanya menghukum perilakunya tanpa memahami lingkungan yang membentuknya, kita mungkin berhasil menghentikan satu masalah, tetapi belum tentu menyelesaikan akar persoalannya.

