Keluarga Tidak Cukup Hanya Mengawasi
Persoalan remaja juga tidak dapat dilepaskan dari keluarga.
Remaja yang merasa tidak didengar, tidak dipahami, atau terlalu sering dihakimi dapat mencari ruang lain untuk mendapatkan penerimaan.
Di sinilah komunikasi keluarga menjadi penting.
Orang tua memang perlu membuat aturan dan batasan. Namun, menurut saya, rumah seharusnya tidak hanya menjadi tempat seorang anak menerima perintah, tetapi juga tempat ia merasa aman untuk berbicara ketika menghadapi masalah.
Aturan tetap diperlukan. Pengawasan juga penting.
Tetapi jika hubungan hanya dibangun melalui larangan dan hukuman, anak mungkin belajar untuk menyembunyikan masalah, bukan menyelesaikannya.
Orang tua tidak harus selalu memiliki jawaban. Yang lebih penting adalah hadir ketika anak membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Kepercayaan, komunikasi, dan keterlibatan orang tua bukan berarti membiarkan remaja bebas tanpa batas. Justru sebaliknya, pendampingan yang baik membantu remaja memahami alasan di balik sebuah aturan dan belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Dunia Digital: Ruang Belajar Sekaligus Ruang Risiko
Generasi hari ini tumbuh bersama internet.
Media sosial bukan lagi sekadar tempat berkomunikasi. Ia telah menjadi ruang untuk belajar, mencari hiburan, membangun pertemanan, menunjukkan identitas, bahkan mencari peluang ekonomi.
Teknologi memberikan manfaat besar. Tetapi pada saat yang sama, ruang digital membawa risiko berupa perundungan siber, konten yang tidak sesuai usia, tekanan sosial, penipuan, hingga eksploitasi daring.
Persoalan tersebut bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan remaja di daerah.
Peristiwa tawuran maut yang baru-baru ini terjadi di kawasan WTC Jambi menjadi pengingat keras bahwa pengaruh media sosial dapat bersinggungan langsung dengan perilaku berisiko di dunia nyata. Dalam peristiwa tersebut, satu remaja dilaporkan tewas dan 13 orang diamankan polisi. Pemicunya disebut berkaitan dengan tantangan yang beredar melalui media sosial.
Kasus tersebut tentu tidak boleh digeneralisasi sebagai gambaran seluruh perilaku remaja. Namun, peristiwa itu menunjukkan bagaimana sebuah tantangan atau ajakan di ruang digital dapat berujung pada konsekuensi yang sangat nyata ketika bertemu dengan tekanan kelompok, keberanian yang keliru, dan keputusan yang tidak diperhitungkan risikonya.
Di sinilah literasi digital tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan media sosial. Remaja juga perlu memahami bahwa ajakan, tantangan, unggahan, maupun percakapan di dunia maya dapat membawa konsekuensi di dunia nyata.
Kajian UNICEF tentang pengetahuan dan kebiasaan daring anak di Indonesia menunjukkan bahwa 42 persen anak pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman di internet. Sementara itu, hanya 37,5 persen yang pernah menerima informasi mengenai cara menjaga keamanan saat berada di ruang digital.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak otomatis berarti kemampuan melindungi diri di dunia digital.
Menurut saya, inilah salah satu tantangan terbesar generasi sekarang.
Kita sering sibuk mengajarkan anak cara menggunakan teknologi, tetapi belum selalu memberikan bekal yang sama kuat tentang kapan harus berhenti, apa yang tidak boleh dibagikan, siapa yang tidak boleh dipercaya, dan bagaimana menghadapi tekanan di ruang digital.
Literasi digital karena itu tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi.
Remaja perlu belajar berpikir sebelum mengunggah sesuatu, menjaga privasi, memilah informasi, memahami jejak digital, mengenali manipulasi, dan berani menolak konten maupun perilaku yang berpotensi merugikan.
Teknologi seharusnya memperluas kesempatan anak untuk belajar dan berkembang, bukan menjadi ruang yang perlahan mengambil alih kendali atas dirinya.

