Hukuman Bukan Satu-Satunya Jawaban
Ketika terjadi perilaku menyimpang, respons pertama yang sering muncul adalah hukuman.
Dalam kondisi tertentu, tindakan tegas tentu diperlukan. Remaja harus memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Tetapi menurut saya, kita perlu membedakan antara memberikan konsekuensi dan sekadar menghukum.
Konsekuensi seharusnya membantu seorang remaja memahami kesalahannya. Hukuman yang hanya bertujuan membuat jera belum tentu membuat seseorang memahami mengapa perilakunya salah atau bagaimana memperbaikinya.
Data Pusiknas Bareskrim Polri menunjukkan bahwa sejak 1 Januari hingga 20 Februari 2025 terdapat 437 anak sebagai terlapor kasus pencurian, 460 anak dalam kasus penganiayaan dan pengeroyokan, 349 anak dalam kasus narkoba, serta tujuh anak dalam perkara perkelahian pelajar dan mahasiswa.
Angka tersebut harus dibaca secara hati-hati. Status terlapor tidak sama dengan terbukti bersalah dan data tersebut juga tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menggambarkan tingkat “kenakalan remaja” di Indonesia.
Namun, data itu tetap memberi pesan yang perlu diperhatikan: sebagian anak sudah bersentuhan dengan persoalan hukum.
Maka, penegakan aturan dan pembinaan seharusnya tidak dipertentangkan.
Konseling, pendidikan karakter, pembinaan disiplin, kegiatan ekstrakurikuler, pendampingan keluarga, dan komunikasi antara sekolah dengan orang tua dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Tujuannya bukan membenarkan kesalahan.
Tujuannya adalah memastikan bahwa satu kesalahan tidak berubah menjadi identitas seorang anak.

