Jangan Hanya Mengawasi, Dampingi

Pada akhirnya, persoalan perilaku remaja bukan semata-mata persoalan remaja.

Ada keluarga yang mungkin membutuhkan penguatan dalam pola pengasuhan. Ada lingkungan yang belum selalu sehat. Ada sekolah yang perlu terus memperkuat pembinaan. Ada ruang digital yang sulit dikendalikan.

Dan ada masyarakat yang terkadang lebih cepat menghakimi daripada memahami.

Laporan KPAI mencatat 2.057 pengaduan sepanjang 2024. Dari jumlah tersebut, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif menjadi kelompok kasus terbesar dengan 1.097 kasus.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan perlindungan anak memiliki banyak dimensi.

Karena itu, membangun karakter remaja tidak bisa dibebankan kepada remaja itu sendiri.

Orang tua perlu hadir.

Sekolah perlu menjadi ruang yang aman untuk belajar dan tumbuh.

Masyarakat perlu menyediakan lingkungan yang sehat.

Pemerintah perlu memperkuat kebijakan, pendidikan, layanan perlindungan, serta fasilitas pembinaan.

Sementara itu, remaja tetap perlu diberi ruang untuk belajar bertanggung jawab atas pilihannya.

Ada keseimbangan yang perlu dijaga di sini: jangan membenarkan kesalahan remaja, tetapi jangan pula menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk menghapus kesempatan mereka memperbaiki diri.

Remaja tidak semestinya hanya dicap sebagai “anak nakal” ketika melakukan kesalahan.

Mereka sedang belajar menjadi dewasa.

Dan orang dewasa di sekitar mereka memiliki peran dalam memastikan proses belajar itu tidak berubah menjadi jalan menuju persoalan yang lebih besar.

Mencegah perilaku berisiko pada remaja bukan sekadar menghentikan sesuatu yang dianggap salah.

Yang lebih penting adalah membangun lingkungan yang membuat pilihan yang baik menjadi mungkin.

Sebab, membimbing remaja bukan hanya tentang mencegah mereka melakukan kesalahan.

Ini tentang membantu mereka mengenal diri, menemukan potensi, memiliki nilai yang kuat, dan tumbuh menjadi generasi yang mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri.