Pergaulan Dapat Membentuk Arah

Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan remaja.

Keinginan untuk diterima kelompok terkadang membuat seorang remaja mengikuti kebiasaan teman, bahkan ketika ia sebenarnya mengetahui bahwa pilihan tersebut memiliki risiko.

Data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan besarnya persoalan kekerasan yang dialami anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memperkirakan sekitar 50,78 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Dalam 12 bulan terakhir, angkanya mencapai sekitar 33,64 persen.

Dalam kasus kekerasan emosional, teman sebaya tercatat sebagai kelompok pelaku dengan persentase tertinggi. Pada responden laki-laki angkanya mencapai 83,44 persen, sedangkan pada responden perempuan 85,08 persen.

Angka tersebut tentu tidak berarti bahwa teman sebaya adalah sumber semua persoalan remaja. Tetapi data itu cukup untuk menunjukkan bahwa lingkungan pergaulan tidak bisa dianggap sebagai persoalan kecil.

Karena itu, menurut saya, membangun lingkungan pertemanan yang sehat jauh lebih penting daripada sekadar melarang seorang remaja berteman dengan kelompok tertentu.

Remaja perlu dibekali kemampuan untuk mengenali tekanan kelompok, mengambil keputusan, dan mengatakan tidak ketika sebuah pergaulan mulai mendorongnya ke arah yang merugikan.

Sebab, pengawasan tidak mungkin dilakukan selama 24 jam. Yang jauh lebih penting adalah membangun kemampuan dalam diri remaja untuk mengambil keputusan ketika tidak ada orang dewasa yang melihat.