Jakarta – Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, membeberkan hasil analisis kondisi gelombang laut saat insiden KM Virgo Transport 8.

Berdasarkan kajian yang dilakukan, kondisi laut di lokasi kejadian memang bergelombang. Namun, tinggi gelombang saat itu masih berada dalam kategori sedang dan tidak termasuk gelombang ekstrem.

“Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter, dengan periode sekitar enam detik. Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang digunakan dalam kajian, nilai tersebut termasuk kategori sedang (1,25-2,50 meter),” kata Widodo dalam keterangannya, Senin (14/9).

“Kategori tinggi dimulai pada 2,50 meter, sedangkan kategori sangat tinggi pada 4 meter,” imbuhnya.

Gelombang Datang dari Arah Samping Kapal

Menurut Widodo, sekitar 96 persen tinggi gelombang pada malam kejadian berasal dari gelombang yang dibangkitkan angin setempat, bukan swell yang merambat dari wilayah jauh.

“Dari karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan sekitar 6,4-8,3 meter per detik atau 12-16 knot, yang berada pada kisaran Beaufort 4-5,” ujar Widodo.

Widodo menjelaskan arah gelombang saat kejadian berasal dari tenggara-timur atau sekitar 122 derajat.

Secara geometris, gelombang tersebut mengenai kapal dari arah samping atau beam seas. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kapal mengalami gerakan oleng secara berulang.

Analisis dinamika kapal memperkirakan periode gelombang berada pada kisaran 5,66-6,47 detik.

Sementara itu, periode alami oleng kapal dengan panjang sekitar 119 meter dan lebar 21 meter berada pada rentang 11-18 detik berdasarkan parameter stabilitas yang digunakan dalam kajian.

Perbedaan periode tersebut menunjukkan tidak terbentuk penguatan gerakan oleng akibat resonansi dalam skenario yang dianalisis.

“Dengan parameter kajian yang tersedia, kemiringan kapal akibat gelombang diperkirakan sekitar 5,9 derajat pada kondisi umum dan 11,2-11,9 derajat pada pembebanan gelombang tertinggi,” jelas Widodo.

Kontribusi angin terhadap kemiringan kapal diperkirakan kurang dari setengah derajat.

Angka tersebut masih berada di bawah ambang sekitar 25 derajat yang dalam kajian digunakan sebagai indikasi awal masuknya air melalui bukaan geladak. Nilainya juga jauh di bawah kisaran 50-60 derajat yang dikaitkan dengan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali tegak.