JAMBI – Kualitas udara di Kota Jambi memburuk pada Minggu (23/8/2026) malam. Pemantauan real-time menunjukkan udara berada pada kategori tidak sehat, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 yang cukup tinggi.
Berdasarkan tangkapan layar pemantauan AQI pada pukul 19.31 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jambi tercatat 168 atau masuk kategori Tidak Sehat. Konsentrasi PM2.5 mencapai 88 µg/m³, sedangkan PM10 berada di angka 158 µg/m³. Pada saat yang sama, suhu tercatat 28 derajat Celsius dengan kelembapan 57 persen dan kecepatan angin sekitar 7,9 kilometer per jam.
Angka tersebut menunjukkan paparan polutan udara di Jambi sudah berada pada level yang perlu diwaspadai, khususnya bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan menunjukkan konsentrasi PM2.5 yang lebih tinggi. Pemantauan BMKG di Kota Jambi pada 23 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB mencatat PM2.5 sebesar 192,6 µg/m³, yang dikategorikan Sangat Tidak Sehat.
Perbedaan angka antara pemantauan AQI dan BMKG tidak serta-merta menunjukkan salah satu data keliru.
Keduanya dapat menggunakan lokasi sensor, waktu pengambilan, metode pengukuran, serta metode penghitungan indeks yang berbeda. Karena itu, angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran bahwa kualitas udara Jambi memang sedang berada dalam kondisi buruk dan mengalami fluktuasi cukup besar.
Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatra. Data pemantauan BMKG yang diperbarui Minggu pagi mencatat 278 titik panas di Provinsi Jambi, dari total 2.610 hotspot yang terdeteksi di Pulau Sumatra. Jumlah hotspot Jambi menjadi salah satu yang tertinggi di Sumatra setelah Sumatera Selatan dan Riau.
BMKG sebelumnya juga telah mengingatkan bahwa Indonesia memasuki periode kemarau yang semakin dominan. Kondisi El Niño kuat turut meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla, dengan Jambi termasuk wilayah yang perlu mendapat perhatian karena risiko kebakaran diperkirakan meningkat pada periode puncak kemarau Agustus–September.
Sementara itu, kondisi cuaca di Kota Jambi pada Minggu malam relatif cerah. Data BMKG pada pukul 19.30 WIB menunjukkan suhu sekitar 28 derajat Celsius, kelembapan 59 persen dan angin dari arah timur dengan kecepatan sekitar 8,3 kilometer per jam.
Dengan meningkatnya konsentrasi partikulat, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Kelompok rentan juga perlu lebih berhati-hati dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar rumah.
Kondisi udara ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang terbakar. Asap dan partikulat halus yang dihasilkan dapat terbawa angin dan berdampak langsung terhadap kualitas udara serta kesehatan masyarakat di wilayah yang berada jauh dari titik kebakaran.

