“Melestarikan warisan budaya bukan hanya menjaga peninggalan masa lalu, tetapi memastikan sejarah mampu memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang.”
Di balik kemegahan kawasan Candi Muaro Jambi yang menjadi salah satu peninggalan sejarah terbesar di Indonesia, terdapat sebuah pertanyaan penting yang perlu dikaji: apakah pengembangan kawasan ini benar-benar menjadi investasi budaya bagi masyarakat atau justru berpotensi mengarah pada komersialisasi sejarah?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pengelolaan situs budaya tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas wisata, tetapi juga bagaimana menjaga nilai sejarah agar tetap menjadi identitas masyarakat.
Candi Muaro Jambi merupakan kawasan percandian Buddha kuno yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Kawasan ini tidak hanya menjadi bukti perkembangan peradaban masa lalu di Provinsi Jambi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas daerah yang memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata.
Keberadaan Candi Muaro Jambi mampu menarik perhatian wisatawan, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar, serta memperkenalkan sejarah Jambi kepada masyarakat luas. Namun, kawasan ini masih menghadapi berbagai tantangan seperti pengelolaan kawasan, fasilitas pendukung, pelestarian bangunan candi, serta keseimbangan antara kepentingan wisata dan perlindungan nilai sejarah.
Menurut saya, pengembangan Candi Muaro Jambi merupakan langkah yang penting dan perlu didukung. Namun, pembangunan kawasan wisata tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan jumlah pengunjung atau keuntungan ekonomi semata.

