JAKARTA – Ekonom Ferry Latuhihin memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh Rp25 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026. Proyeksi tersebut disampaikan di tengah meningkatnya tekanan domestik dan menurunnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Menurut Ferry, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tidak semata-mata dipengaruhi faktor eksternal seperti konflik geopolitik di Timur Tengah maupun kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Ia menilai sumber utama tekanan justru berasal dari dalam negeri.
Ferry mengatakan kondisi tersebut tercermin dari berbagai sinyal negatif yang muncul di pasar keuangan dalam beberapa waktu terakhir.
“Kalau dikatakan bahwa ini semuanya gara-gara external forces itu bisa dilihat angkanya. Terhadap ringgit Malaysia kita melemah, terhadap dolar Singapura kita melemah juga. Pada saat mata uang lain menguat terhadap dolar AS, kita tetap melemah,” ujar Ferry dalam program Head to Head CNN Indonesia TV, Rabu (3/6).
Ia menilai pelemahan rupiah saat ini merupakan persoalan yang bersifat sistemik dan bukan sekadar gejolak jangka pendek. Karena itu, Ferry memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menyentuh level Rp20 ribu per dolar AS pada Juni, Rp22 ribu per dolar AS pada Juli, hingga mencapai Rp25 ribu per dolar AS menjelang akhir tahun.
“Saya masih cukup yakin Rp20 ribu di Juni, Rp22 ribu di Juli, dan kemudian dari Juli sampai Desember bisa ke Rp25 ribu. Kenapa? Karena tidak ada mitigasi risiko secara moneter maupun fiskal,” ujarnya.
Krisis Kepercayaan Investor Jadi Sorotan
Ferry juga menyoroti sejumlah faktor yang dinilai memperburuk sentimen investor, mulai dari perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional hingga berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai memunculkan ketidakpastian di pasar.

