Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah menurunnya tingkat kepercayaan investor terhadap kebijakan yang diambil pemerintah.

“The problem is trust investor. Ketika Anda mengubah kebijakan dengan tujuan yang baik, belum tentu investor percaya,” katanya.

Lebih lanjut, Ferry menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) belum tentu mampu membalikkan sentimen pasar. Ia menilai Indonesia menghadapi tantangan besar untuk kembali menarik aliran modal asing di tengah meningkatnya risiko ekonomi domestik.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah sekaligus memperberat kondisi fiskal pemerintah.

“Harga minyak ini saya yakin tidak akan turun lagi ke US$60 per barel. Tendensinya sekarang semakin tinggi, bisa di kisaran US$110 sampai US$120 per barel,” pungkasnya.

Pemerintah Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menanggapi tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh Rp18.049 per dolar AS pada Kamis (4/6).

Prasetyo menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat. Menurutnya, hal tersebut tercermin dari sejumlah indikator ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi yang masih terjaga.

“Kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi. Kemudian, inflasi yang masih terjaga Insyaallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat,” ujar Pras di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/6).