Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus mengubah lanskap dunia kerja. Di tengah kekhawatiran bahwa teknologi akan menggantikan sejumlah pekerjaan, generasi muda, khususnya Gen Z, dituntut memiliki kemampuan yang lebih beragam agar tetap relevan dan kompetitif.
Salah satu pendiri Stripe, John Collison, menilai menguasai dua bidang ilmu atau dua keahlian berbeda dapat menjadi strategi yang efektif untuk menghadapi perubahan tersebut.
Dalam pandangannya, kombinasi kemampuan lintas disiplin memberikan nilai tambah yang sulit digantikan oleh teknologi, terutama ketika AI mampu membuat berbagai proses kerja menjadi lebih efisien.
“Kalau Anda paham software dan paham keuangan, atau paham software dan paham marketing, Anda bisa sangat meningkatkan seluruh marketing funnel perusahaan,” kata Collison, seperti diberitakan Fortune.
Menurutnya, lulusan yang memiliki keahlian di lebih dari satu bidang akan lebih siap membangun karier di tengah transformasi dunia kerja yang dipengaruhi perkembangan AI.
Keunggulan Pemikir Multidisiplin
Collison menilai kemampuan berpikir lintas disiplin bukanlah konsep baru. Ia mengingatkan bahwa gagasan tersebut telah lama disampaikan oleh investor legendaris Charlie Munger.
Munger, yang dikenal sebagai tangan kanan Warren Buffett di Berkshire Hathaway, selama bertahun-tahun mendorong pentingnya memiliki wawasan dari berbagai bidang ilmu.
Menurut Collison, kemajuan teknologi justru membuat proses belajar menjadi lebih mudah dibanding sebelumnya.
“Charlie Munger berbicara tentang pentingnya menjadi multidisipliner,” ucap Collison.
Ia menambahkan bahwa saat ini siapa pun dapat mempelajari berbagai bidang melalui buku maupun bantuan AI.
“Anda bisa membaca buku sekarang atau berbicara dengan AI tentang itu. Saya pikir para pemikir multidisiplin akan tampil sangat baik,” kata Collison lagi.
Lulusan Humaniora Dinilai Punya Nilai Tambah
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Daniela Amodei dari Anthropic.
Amodei menilai keterampilan interpersonal akan semakin penting dalam dunia kerja yang semakin banyak berkolaborasi dengan AI.
Menurutnya, lulusan dari bidang liberal arts atau humaniora memiliki bekal yang kuat karena menggabungkan kemampuan memahami manusia, sejarah, komunikasi, dan cara berpikir kritis.
Ia berpendapat AI saat ini sudah sangat kuat dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika. Karena itu, kemampuan yang berkaitan dengan aspek manusia akan menjadi semakin bernilai.
“Saya pikir gagasan bahwa ada hal-hal yang membuat kita unik sebagai manusia, memahami diri kita sendiri, memahami sejarah, memahami apa yang membuat kita termotivasi, saya pikir itu akan selalu sangat, sangat penting,” tutur Amodei.
Soft Skill Jadi Kunci di Masa Depan
Selain kemampuan teknis, para pemimpin industri teknologi menilai keterampilan nonteknis atau soft skill akan menjadi faktor pembeda di era AI.
Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, memahami perilaku manusia, bekerja sama, serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dipandang sebagai kompetensi yang sulit digantikan oleh mesin.
Amodei menegaskan kemampuan belajar dan berinteraksi dengan orang lain justru akan semakin penting di masa depan seiring semakin luasnya penggunaan AI dalam berbagai sektor.
Di tengah perubahan cepat yang terjadi di dunia kerja, kombinasi keterampilan teknis dan pemahaman terhadap manusia dinilai menjadi salah satu modal utama bagi Gen Z untuk membangun karier yang berkelanjutan.

