Oleh: Garuda Sirait
Ada kabar yang seharusnya membuat seluruh penyelenggara program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti sejenak.
Bukan karena angka penerima manfaat bertambah. Bukan karena jumlah dapur yang terus diperluas. Bukan pula karena berapa juta porsi makanan berhasil dibagikan setiap hari.
Tetapi karena seorang anak sekolah dasar di Lampung Tengah meninggal dunia setelah tersedak buah kelengkeng yang menjadi bagian dari menu MBG.
Siswa kelas 3 SDN 03 Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Lampung Tengah, berinisial RAP, 9 tahun, meninggal pada Selasa, 22 September 2026. Berdasarkan keterangan polisi yang diberitakan sejumlah media, korban tersedak ketika mengonsumsi kelengkeng di ruang kelas. Korban sempat mendapat pertolongan sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan, tetapi nyawanya tidak tertolong. Polisi menyatakan penyelidikan dilakukan dan keluarga menolak autopsi.
Kita harus berhati-hati: jangan buru-buru menyimpulkan bahwa program MBG secara keseluruhan adalah penyebab kematian. Fakta yang tersedia menunjukkan adanya peristiwa tersedak ketika korban mengonsumsi kelengkeng dalam paket MBG. Penyebab dan tanggung jawab hukumnya tetap harus diperiksa secara objektif.
Diam bukan berarti bungkam
Justru di sinilah pertanyaan paling penting harus diajukan.
Mengapa aspek keselamatan anak tidak menjadi standar utama sejak makanan itu dirancang, disiapkan, dikemas, dikirim, hingga disantap?
Sebab MBG bukan sekadar proyek membagikan makanan.
Ini adalah program yang menyasar anak-anak. Mereka bukan konsumen dewasa yang dapat diasumsikan memahami seluruh risiko makanan yang dikonsumsi. Anak SD memiliki usia, kemampuan, kebiasaan makan, dan tingkat pemahaman yang berbeda.

