JAKARTA — Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mengapresiasi arah kebijakan energi terbarukan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. METI menilai sejumlah program pemerintah, mulai dari biodiesel B50, pengembangan bioetanol E20, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt-peak (GWp), hingga pengolahan sampah menjadi energi, menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Ketua Umum METI Norman Ginting mengatakan, berbagai program tersebut menunjukkan arah pembangunan yang menghubungkan kemandirian energi, penguatan ekonomi masyarakat, industrialisasi, dan keberlanjutan lingkungan.
“Keberanian memperbesar skala program dan menghubungkannya dengan kemandirian energi, industrialisasi, serta kesejahteraan rakyat merupakan perubahan yang sangat penting bagi masa depan Indonesia,” ujar Norman dalam keterangan resminya, Rabu (21/10/2026).
Menurut Norman, keberhasilan transisi energi tidak cukup diukur dari banyaknya program yang diumumkan. Dampaknya juga perlu dirasakan langsung oleh masyarakat, antara lain melalui berkurangnya ketergantungan pada impor energi, bertambahnya peluang usaha dan lapangan kerja, serta tersedianya energi yang andal dan terjangkau.
METI Apresiasi Implementasi Biodiesel B50
METI mengapresiasi penerapan mandatori biodiesel 50 persen atau B50 yang diluncurkan pada Juli 2026. Program ini menggabungkan bahan bakar solar dengan biodiesel berbasis minyak nabati untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

