Jakarta — Ilmuwan mengembangkan metode untuk membantu pasir menahan air lebih lama dengan memanfaatkan serat yang dihasilkan bakteri dan jamur. Teknologi yang disebut sebagai pasir hidup ini menunjukkan potensi untuk mengurangi kehilangan air pada media berpasir, yang selama ini menjadi tantangan dalam kegiatan pertanian.

Menanam tanaman di lahan berpasir bukan perkara mudah. Air cenderung cepat meresap melalui celah antarbutiran pasir sehingga media tanam lebih cepat kehilangan kelembapan. Kondisi tersebut membuat penyiraman menjadi tantangan tersendiri bagi petani.

Dilansir dari Science Alert, para ilmuwan menguji kemampuan serat biologis yang dihasilkan bakteri dan jamur untuk mengikat butiran pasir. Mikroba dibiarkan tumbuh di dalam pasir hingga membentuk material yang disebut pasir hidup.

Berdasarkan hasil pengujian, pasir yang ditumbuhi serat mikroba mampu mengurangi permeabilitas air sekitar enam kali lipat. Pada pendekatan lain, peneliti menggunakan lapisan tipis selulosa bakteri yang ditempatkan di antara lapisan pasir. Metode kedua ini mampu mengurangi permeabilitas air hingga 28 kali lipat.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Carbohydrate Polymers tersebut menggunakan bakteri penghasil selulosa Komagataeibacter medellinensis dan dua strain jamur Schizophyllum commune. Kedua strain jamur itu berasal dari spesies yang sama, tetapi memiliki karakteristik pertumbuhan berbeda.

Untuk pengujian, peneliti menggunakan pasir dari bukit pasir di dekat Al Ain, Uni Emirat Arab, serta pasir standar laboratorium untuk pengujian kekuatan tertentu. Sebelum ditambahkan mikroba dan larutan nutrisi, pasir terlebih dahulu disterilkan.