Hasil pengamatan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa selulosa yang dihasilkan bakteri melekat pada permukaan butiran pasir dan menghubungkan butiran-butiran yang berdekatan.

Dalam waktu tujuh hari, terbentuk kolom pasir setinggi 6 sentimeter yang menyatu dengan kuat. Material tersebut dapat dikeluarkan dari cetakan dan dipotong menjadi beberapa bagian. Potongan blok pasir itu tetap utuh ketika dimasukkan ke dalam air.

Jamur juga menunjukkan kemampuan mengikat butiran pasir. Namun, material yang dihasilkan cenderung lebih rapuh. Beberapa bagian bahkan hancur ketika dikeluarkan dari cetakan.

Pada pendekatan kedua, peneliti menumbuhkan lembaran selulosa secara terpisah, kemudian menyisipkannya di antara lapisan pasir. Lembaran tersebut berfungsi sebagai penguat struktur pasir.

Dalam demonstrasi menggunakan beban 10 kilogram, kubus pasir tanpa perlakuan langsung runtuh. Sebaliknya, pasir yang diperkuat dengan lembaran selulosa terlihat lebih kuat.

Peneliti kemudian menuangkan air untuk mengukur kecepatan air keluar dari material. Hasilnya menunjukkan bahwa pasir dengan lapisan penguat selulosa mampu mengurangi permeabilitas air hingga 28 kali lipat. Sementara itu, pasir yang ditumbuhi serat mikroba mampu mengurangi permeabilitas sekitar enam kali lipat.

Meski hasil awalnya menjanjikan, penelitian ini masih terbatas pada pengujian laboratorium. Mikroba ditumbuhkan menggunakan air dan nutrisi dalam kondisi terkendali. Pertumbuhan mikroba tersebut juga membutuhkan oksigen.

Karena itu, temuan ini belum membuktikan bahwa teknologi pasir hidup dapat langsung diterapkan secara luas pada lahan pertanian di wilayah gurun. Pengujian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui kinerjanya dalam kondisi lingkungan nyata.