Jangan sampai keberhasilan MBG hanya dihitung dari jumlah porsi yang dibagikan, sementara keselamatan anak tidak memiliki indikator yang sama seriusnya.

Pemerintah tentu memiliki pekerjaan besar. Memberi makan jutaan anak bukan perkara sederhana. Logistiknya rumit. Dapurnya banyak. Rantai pasoknya panjang. Anggarannya besar. Pengawasannya tidak mudah.

Justru karena itulah standar keselamatan harus dibuat semakin ketat, bukan semakin longgar.

Program raksasa membutuhkan sistem raksasa pula.

Bukan sekadar dapur yang mampu memasak.

Tetapi sistem yang mampu mencegah kesalahan, menemukan risiko, merespons keadaan darurat, mencatat insiden, dan memperbaiki prosedur sebelum kesalahan yang sama terulang.

Kepala SPPG 1 Dapur 1 Poncowarno, Lampung Tengah, diberitakan akan mengevaluasi penggunaan kelengkeng setelah kejadian tersebut.

Evaluasi tentu perlu.

Tetapi publik membutuhkan lebih dari sekadar evaluasi satu menu.

Yang harus dievaluasi adalah sistemnya.

Apa standar keamanan makanan MBG untuk anak SD?

Apa daftar pangan yang memiliki risiko tersedak?

Bagaimana pangan berisiko harus dipotong atau disajikan?

Siapa yang melakukan pemeriksaan?

Bagaimana sekolah melakukan pengawasan?

Bagaimana penanganan kegawatdaruratan?

Dan bagaimana negara memastikan kejadian serupa tidak terjadi di sekolah lain?

Itulah pertanyaan yang harus dijawab.

Jangan pula menunggu setiap tragedi menjadi viral baru sistem bergerak.

Anak-anak bukan objek uji coba kebijakan.

Mereka bukan angka dalam laporan keberhasilan program.

Mereka adalah manusia kecil yang dipercayakan negara kepada sistem pendidikan dan pelayanan publik.