JAKARTA — Menonton televisi menjadi salah satu pilihan banyak orang untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas. Selain menghibur, aktivitas ini dapat membuat tubuh dan pikiran terasa lebih rileks.
Namun, bagaimana jika terlalu banyak menghabiskan waktu di depan televisi?
Sebuah studi menemukan kebiasaan terlalu sering menonton TV berkaitan dengan volume yang lebih kecil pada beberapa bagian otak yang berperan penting dalam fungsi berpikir dan daya ingat.
Temuan tersebut juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif di kemudian hari.
Meski terdengar mengkhawatirkan, hasil penelitian ini tidak berarti menonton televisi secara otomatis membuat otak menyusut.
Lantas, apa yang sebenarnya ditemukan para peneliti?
Efek Keseringan Nonton TV pada Otak
Melansir Prevention, penelitian yang dipublikasikan dalam Alzheimer’s & Dementia: Journal of the Alzheimer’s Association melibatkan lebih dari 1.700 orang dewasa dengan usia rata-rata 53 tahun.
Para peneliti menanyakan seberapa sering peserta menonton televisi pada waktu luang serta berapa lama mereka duduk selama bekerja.
Sekitar 20 tahun kemudian, para peneliti melakukan pemindaian otak menggunakan MRI untuk melihat perubahan yang terjadi.
Hasilnya, peserta yang mengaku “sangat sering” menonton TV saat waktu luang memiliki volume yang lebih kecil di beberapa area otak yang berkaitan dengan tanda awal penyakit Alzheimer.
Peneliti juga menemukan lebih banyak white matter hyperintensities pada kelompok tersebut.
White matter hyperintensities merupakan perubahan pada jaringan otak yang selama ini dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan demensia.
Ukuran lobus frontal dan lobus oksipital peserta yang sangat sering menonton TV juga ditemukan cenderung lebih kecil.
Lobus frontal berperan dalam kemampuan merencanakan sesuatu, mengambil keputusan, dan mengendalikan perilaku. Sementara lobus oksipital berfungsi memproses informasi visual.
Namun, peneliti menegaskan penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa menonton TV secara otomatis menyebabkan otak menyusut.
Studi itu hanya menemukan adanya hubungan antara kebiasaan menonton televisi dan perubahan struktur otak.

