JAKARTA — Kasus Ebola yang terdeteksi di Kenya setelah seorang pria melakukan perjalanan dari Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) melalui Uganda menyoroti tantangan pengendalian wabah lintas negara. Pria tersebut sempat melewati pemeriksaan kesehatan di bandara sebelum dinyatakan positif terinfeksi virus Bundibugyo, salah satu jenis virus penyebab Ebola.

Kenya sebelumnya telah meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyaring ratusan ribu pelancong dan melatih hampir 5.000 tenaga kesehatan. Namun, langkah tersebut belum berhasil mendeteksi kasus impor yang kemudian dikonfirmasi pada awal Oktober 2026.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pasien tersebut merupakan warga Kenya yang telah tinggal di RD Kongo selama tujuh tahun. Ia melakukan perjalanan darat menuju Kampala, Uganda, pada 2 Oktober, kemudian terbang ke Nairobi pada 3 Oktober 2026.

Setibanya di Nairobi, seorang kerabat membawanya langsung ke Nairobi Hospital. Pasien kemudian diisolasi dan menjalani pemeriksaan. Hasil laboratorium mengonfirmasi infeksi virus Bundibugyo. Ia meninggal pada 5 Oktober 2026.

Wabah Ebola di RD Kongo Terus Meluas

Kasus di Kenya menambah tantangan penanganan wabah Ebola yang berpusat di RD Kongo. Mobilitas penduduk lintas negara membuat penyebaran penyakit menular sulit diantisipasi hanya melalui pemeriksaan di pintu masuk.

WHO mencatat hingga 6 Oktober 2026, RD Kongo memiliki 8.728 kasus terkonfirmasi dan 4.205 kematian akibat penyakit virus Bundibugyo. Kasus-kasus tersebut tersebar di tujuh provinsi.