Christian Happi, profesor biologi molekuler dan genomik di Redeemer’s University, Nigeria, menyoroti keterbatasan pemeriksaan suhu untuk mengidentifikasi seluruh pelancong yang terinfeksi.

Happi mengusulkan agar penumpang pesawat dari RD Kongo diwajibkan menunjukkan hasil tes Ebola negatif sebelum keberangkatan. Usulan itu lebih ketat dibandingkan panduan WHO yang disebut dalam laporan, yakni pemeriksaan keluar berupa kuesioner paparan dan pemeriksaan suhu tanpa kewajiban tes negatif bagi setiap pelancong.

Perbedaan pendekatan tersebut mencerminkan tantangan dalam menentukan langkah pengawasan perjalanan yang efektif di tengah wabah, tanpa mengabaikan keterbatasan pemeriksaan dan kebutuhan koordinasi antarnegara.

Kenya Lakukan Pelacakan Kontak

Setelah kasus dikonfirmasi, otoritas Kenya melakukan pelacakan kontak dan memperketat pemeriksaan kesehatan di Bandara Internasional Jomo Kenyatta.

WHO juga menyatakan langkah tanggap kesehatan masyarakat telah dilakukan di Kenya dan Uganda, termasuk pelacakan orang-orang yang mungkin terpapar.

Dalam laporan yang menjadi dasar naskah ini, tes awal terhadap pasien lain berusia 20 tahun yang datang dari RD Kongo melalui Uganda dilaporkan negatif pada Kamis (8/10). Hasil tersebut merupakan pemeriksaan awal dan tidak dengan sendirinya menggambarkan status seluruh orang yang mungkin terpapar.

Deteksi dini dan tindak lanjut terhadap kontak menjadi bagian penting dari upaya membatasi penularan. Semakin cepat kasus dikenali, semakin cepat pula otoritas dapat melakukan isolasi, pemeriksaan lanjutan, dan pemantauan terhadap orang yang berisiko.

Tantangan Mengendalikan Ebola Bundibugyo

Virus Bundibugyo menjadi perhatian khusus karena hingga laporan ini disusun belum tersedia vaksin berlisensi maupun pengobatan spesifik yang disetujui untuk penyakit tersebut. Sejumlah kandidat vaksin dan obat masih dalam tahap penelitian.