JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan dua kali menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan militer terhadap kelompok Houthi di Yaman.

Permintaan tersebut disampaikan ketika pasukan Houthi memperluas penguasaan wilayah di pesisir Laut Merah dan mendekati Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis bagi perdagangan dan energi dunia. Amerika Serikat, yang saat ini tengah terlibat dalam perang dengan Iran, memilih memberikan dukungan kepada Saudi tanpa terjun langsung dalam pertempuran melawan Houthi.

Menurut laporan Al Jazeera yang mengutip laporan Axios, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) setidaknya dua kali berbicara langsung dengan Trump untuk meminta serangan AS terhadap Houthi. Permintaan pertama dilaporkan terjadi pada September ketika pasukan Houthi bergerak menuju kawasan strategis Bab el-Mandeb.

Trump kemudian kembali mempertimbangkan serangan terhadap Houthi pada September, tetapi akhirnya memutuskan untuk menunda keterlibatan militer langsung Amerika Serikat.

Saudi Kembali Minta Bantuan Militer AS

Selain MBS, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman juga meminta bantuan Amerika Serikat melalui Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Dalam pembicaraan tersebut, Khalid dilaporkan meminta AS melakukan serangan udara terhadap target Houthi untuk membantu Saudi menghadapi kelompok yang didukung Iran tersebut. Namun, Washington menyatakan tidak akan melakukan aksi militer langsung untuk saat ini.

Sebagai gantinya, Amerika Serikat memberikan dukungan berupa informasi intelijen dan data penargetan kepada Saudi. Salah satu pejabat AS mengatakan militer Amerika telah memberikan lebih dari 200 target Houthi kepada Saudi dalam dua pekan terakhir.