Posisi tersebut berkaitan dengan fokus militer AS yang masih tertuju pada perang dengan Iran. Al Jazeera melaporkan Washington menghadapi keterbatasan sumber daya militer dan tidak ingin membuka front baru di Yaman.

Houthi Serang Dua Bandara Saudi

Di tengah situasi tersebut, serangan antara Houthi dan pasukan yang didukung Saudi terus berlangsung.

Pada 6 dan 7 Oktober 2026, serangan Houthi menyasar Abha International Airport dan King Khalid International Airport di Riyadh. Otoritas Penerbangan Sipil Saudi menyatakan tiga orang tewas dan 36 lainnya terluka dalam dua serangan tersebut.

Serangan di Abha menewaskan dua perempuan, masing-masing warga Maroko dan Aljazair, serta melukai 28 orang. Sementara serangan terhadap King Khalid International Airport menewaskan seorang warga Sudan dan melukai delapan orang.

Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menyatakan menggunakan rudal dan drone untuk menyerang sejumlah sasaran di Arab Saudi.

Sebagai balasan, koalisi yang dipimpin Saudi melancarkan serangan terhadap sasaran militer Houthi di Yaman. Reuters melaporkan koalisi Saudi menyerang lebih dari 80 target Houthi setelah serangkaian serangan tersebut.

Juru bicara koalisi Saudi, Kolonel Turki Al Maliki, juga menyatakan pihaknya menghancurkan platform pelontar rudal balistik yang digunakan untuk menyerang wilayah Saudi.

“Operasi penghancuran berlangsung di Ibu Kota Yaman, Sanaa, saat musuh melakukan serangkaian serangan terhadap Kerajaan,” ucap Al Maliki di X.

AS Hindari Keterlibatan Langsung

Sikap Washington menunjukkan Amerika Serikat sejauh ini memilih membantu Saudi melalui dukungan intelijen dan penargetan, tetapi menghindari serangan langsung terhadap Houthi.