WHO menilai risiko wabah di RD Kongo sangat tinggi, sedangkan risiko bagi negara-negara yang berbatasan darat dengan negara tersebut tergolong tinggi. Penilaian risiko untuk wilayah Afrika lainnya dan tingkat global masih berada pada kategori rendah berdasarkan evaluasi WHO sebelumnya.
Sebelum kasus Kenya dikonfirmasi, wabah terkait telah terdeteksi di RD Kongo, Uganda, dan Prancis. Kasus impor di Kenya menjadikan negara tersebut negara keempat yang mengonfirmasi infeksi virus Bundibugyo dalam rangkaian wabah ini.
Mengapa Pasien Bisa Lolos dari Skrining?
Belum diketahui secara pasti kapan pasien mulai mengalami gejala Ebola selama perjalanan. WHO menyebut pasien telah sakit sekitar satu bulan dan sempat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di RD Kongo.
Kementerian Kesehatan Uganda menyatakan pasien berada di negaranya kurang dari 24 jam. Pemeriksaan suhu sebelum keberangkatan dari Bandara Internasional Entebbe dilaporkan tidak menunjukkan demam.
Setibanya di Kenya, pasien juga menjalani pemeriksaan kesehatan di Bandara Internasional Jomo Kenyatta. Namun, ia tidak teridentifikasi sebagai suspek Ebola sebelum dibawa ke rumah sakit.
Kondisi tersebut memperlihatkan keterbatasan skrining yang mengandalkan gejala yang tampak. Seseorang yang terinfeksi tetapi belum mengalami gejala tertentu, misalnya demam, dapat luput dari pemeriksaan suhu. Meski demikian, waktu pasti munculnya gejala pada pasien ini belum diketahui.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) juga menyoroti tingginya mobilitas penduduk di kawasan terdampak, termasuk untuk bekerja, berdagang, dan mengunjungi keluarga. Sebagian perjalanan dilakukan melalui jalur tidak resmi yang lebih sulit diawasi.
Skrining Bandara Tidak Menjamin Semua Kasus Terdeteksi
Pemeriksaan kesehatan di bandara dan perbatasan darat merupakan bagian dari upaya mencegah penyebaran penyakit. Namun, pemeriksaan tersebut tidak dapat menjamin setiap orang yang terinfeksi akan terdeteksi, terutama jika gejala belum muncul atau belum dikenali.

