Jakarta – Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Fithra Faisal, menyebut nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat apabila pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak melakukan intervensi di pasar keuangan.
Menurut Fithra, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari meningkatnya risiko geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, penguatan yield obligasi Amerika Serikat, hingga meningkatnya indeks volatilitas global.
Selain faktor eksternal tersebut, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh rebalancing MSCI dan arus dividen ke luar negeri selama periode Mei.
“Kalau misalnya tanpa intervensi, berdasarkan simulasi saya memang sudah Rp18 ribu lewat,” kata Fithra dalam program Prime Plus CNN Indonesia TV, Senin (18/5).
Ia menjelaskan, apabila ketegangan geopolitik global tidak terjadi, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS.
“Kalau faktor-faktor geopolitik itu hilang, sebenarnya kita ada di kisaran Rp16.700-Rp16.800,” ujarnya.
Fithra menegaskan pemerintah bersama Bank Indonesia terus melakukan langkah antisipasi agar pergerakan rupiah tetap terkendali. Ia menyebut cadangan devisa Indonesia saat ini masih berada pada level aman, yakni mencapai US$146 miliar.
“Kalau misalnya tanpa intervensi memang harusnya sudah Rp18 ribu lewat. Tapi Bank Indonesia sudah melakukan intervensi foreign exchange sejak Januari,” kata dia.
Selain intervensi moneter, pemerintah juga disebut telah menyiapkan berbagai langkah penyangga fiskal melalui efisiensi anggaran dan penyesuaian program prioritas.
“Dalam konteks threshold, cadangan devisa kita itu sebenarnya more than enough,” ujarnya.
