Indonesia hari ini tidak sedang berada dalam krisis yang runtuh total, tetapi juga tidak sedang baik-baik saja. Angka pertumbuhan ekonomi masih bergerak, inflasi terlihat lebih jinak dibanding periode sebelumnya, dan ketimpangan belum meledak. Namun di balik statistik yang tampak tenang, ada masalah yang jauh lebih terasa di kehidupan sehari-hari: harga bahan pokok bergerak lebih cepat daripada pendapatan rakyat, sementara belanja negara kerap terlihat lebih mudah mengalir ke proyek besar ketimbang ke perlindungan daya beli masyarakat.

Di titik inilah frasa “efisiensi” menjadi janggal. Bagi rakyat kecil, efisiensi seharusnya berarti uang negara dipakai sehemat mungkin untuk hasil yang paling besar bagi publik. Tetapi dalam praktik, efisiensi sering dipakai sebagai bahasa administratif yang rapi untuk menekan pos-pos tertentu, sementara proyek besar yang tidak selalu jelas manfaat langsungnya tetap jalan. Akibatnya, rakyat diminta bersabar, sementara biaya hidup terus naik.

Masalah paling nyata ada pada inflasi dan harga pokok. Inflasi mungkin tampak turun dalam beberapa bulan, tetapi harga beras, telur, minyak goreng, cabai, daging, transportasi, dan sewa rumah tidak bergerak dalam satu garis yang sama. Banyak keluarga merasakan bahwa sekalipun gaji naik, kenaikannya tidak cukup mengejar lonjakan kebutuhan harian. Ini terutama berat bagi kelompok menengah ke bawah, karena porsi pengeluaran mereka untuk pangan jauh lebih besar daripada kelompok atas. Ketika harga makanan naik sedikit saja, ruang belanja mereka langsung menyempit. Uang untuk pendidikan anak, kesehatan, transportasi, atau tabungan menjadi korban pertama.