Kepercayaan Pasar Jadi Sorotan

Di sisi lain, ekonom Ferry Latuhihin menilai pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi fundamental ekonomi, tetapi juga menurunnya kepercayaan pasar terhadap pemerintah.

Menurut Ferry, sentimen negatif mulai terlihat setelah lembaga pemeringkat Fitch dan Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,11 persen pada 2025.

“Kalau ngomong ketidakpercayaan, itu sebenarnya terjadi setelah kabinet diumumkan. Kita lihat secara sistematik dolar-rupiah itu terus trending up,” kata Ferry.

Ia menyebut pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan defisit anggaran.

Ferry menyoroti defisit fiskal kuartal I yang mencapai Rp240 triliun serta penarikan utang baru sebesar Rp258 triliun.

“Bagaimana investor bisa percaya bahwa pemerintah bisa menjaga defisit di bawah 3 persen? Kan nggak dipercaya,” ujarnya.

Ferry juga mengkhawatirkan kemungkinan Bank Indonesia kembali membeli Surat Berharga Negara (SBN) apabila ruang fiskal pemerintah semakin terbatas.

Menurutnya, langkah tersebut berpotensi memicu penurunan peringkat kredit Indonesia dan meningkatkan premi risiko terhadap rupiah.

“Kalau nanti ternyata government is running out of money dan cetak duit lagi untuk membeli SBN, saya khawatir rating kita malah di-downgrade,” katanya.