Universitas seharusnya menjadi ruang lahirnya gagasan, penelitian, dialog ilmiah, dan pertumbuhan intelektual. Namun dalam pengalaman saya sebagai mahasiswa di Universitas Jambi, kampus justru lebih sering terasa seperti kantor administrasi dibanding pusat akademik yang hidup.

Terlalu banyak energi mahasiswa habis untuk mengurus berkas, validasi, tanda tangan, sistem administrasi, dan prosedur yang berbelit. Kampus terasa sibuk dengan urusan formalitas, sementara semangat akademiknya sendiri justru terasa jauh. Bahkan untuk urusan penting seperti proses skripsi dan administrasi akademik, mahasiswa sering dipaksa berhadapan dengan sistem yang rumit, komunikasi yang tidak jelas, serta birokrasi yang melelahkan.

Padahal, dengan UKT yang saya bayarkan sebesar Rp4,5 juta per semester pada Golongan VII — golongan tertinggi — mahasiswa tentu berharap lebih dari sekadar pelayanan administratif yang kaku dan konvensional. Kampus idealnya hadir sebagai ruang belajar yang menyenangkan, modern, adaptif, serta mendorong budaya riset dan diskusi ilmiah secara nyata.

Selama berkuliah, sangat sedikit momen yang benar-benar membuat saya merasakan atmosfer akademik yang hidup. Salah satu pengalaman paling berharga justru datang ketika saya terlibat dalam penelitian kolaboratif bersama Prof. Dr. Drs. M. Naswir, M.Si. Dari sana saya melihat bagaimana kampus sebenarnya bisa menjadi tempat berkembangnya ilmu, pengalaman lapangan, dan pemikiran yang terbuka. Ada semangat riset, ada dialog, ada proses belajar yang nyata. Sayangnya, pengalaman seperti itu terasa menjadi pengecualian, bukan budaya utama.