Selebihnya, aktivitas kampus masih didominasi pola lama: formal, kaku, administratif, dan terlalu sibuk pada urusan teknis dibanding pengembangan kualitas akademik mahasiswa. Mahasiswa akhirnya lebih sering diposisikan sebagai pengurus dokumen daripada pencari ilmu.
Kritik ini bukan ditujukan untuk menyerang individu atau pihak tertentu, melainkan bentuk keresahan sekaligus harapan. Universitas Jambi memiliki potensi besar untuk menjadi kampus yang lebih progresif, modern, dan benar-benar hidup secara akademik. Tetapi perubahan itu hanya bisa terjadi jika kampus mulai berani mengevaluasi budaya birokrasi yang terlalu dominan dan mengembalikan kampus pada fungsi utamanya: pusat ilmu pengetahuan, penelitian, dan ruang tumbuh generasi muda.
