“Kalau lagi senggang, ya buat nikmatin suasana. Enjoy aja (menggunakan MRT Jakarta),” kata Ilham.
Menurutnya, MRT menjadi pilihan ketika membutuhkan perjalanan yang cepat dan terjadwal.
“Kalau pas kepepet pilihannya MRT, karena cepat dan terjadwal, jadi enggak buang waktu,” ujarnya.
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, juga menilai fasilitas MRT Jakarta layak dibandingkan dengan moda transportasi di berbagai negara.
“Orang Indonesia lebih tertib, bersih, dari sisi fasilitas dibandingkan negara-negara lain, kita enggak kalah. Bahkan kita ada tempat sholat, di negara lain enggak ada yang gitu-gitu (fasilitas),” kata Djoko saat dihubungi, Sabtu (17/10).
Keterbatasan Rute dan Kapasitas Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Meski mendapat penilaian positif, transportasi publik Jakarta dan kawasan sekitarnya masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat.
Djoko menyoroti panjang jaringan MRT Jakarta Fase 1 yang beroperasi sepanjang 15,7 kilometer, dari Stasiun Lebak Bulus hingga Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI). Sebagai perbandingan, laman SGTrains mencantumkan jaringan MRT Singapura sepanjang 245,2 kilometer.
Perbedaan panjang jaringan tersebut menunjukkan besarnya ruang pengembangan yang masih tersedia bagi transportasi berbasis rel di Jakarta. Namun, perbandingan ini perlu mempertimbangkan cakupan jaringan, tahapan pembangunan, dan karakteristik sistem transportasi masing-masing kota.
Djoko juga menyebut sekitar empat juta orang dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) masuk ke Jakarta setiap hari. Menurutnya, kapasitas transportasi umum yang tersedia belum mampu melayani seluruh kebutuhan perjalanan tersebut.

