Meski begitu, menyukai makanan manis bukan berarti seseorang mengalami demensia. Perubahan selera makan perlu dilihat bersama gejala lain, riwayat kesehatan, dan perubahan fungsi sehari-hari.
Kapan Perubahan Kebiasaan Makan Perlu Diperiksakan?
Perubahan kebiasaan makan tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami demensia. Namun, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan jika perubahan tersebut menetap, semakin jelas, atau muncul bersamaan dengan gejala lain.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain:
- Sering lupa terhadap kejadian atau percakapan yang baru berlangsung.
- Kesulitan merencanakan kegiatan yang sebelumnya mudah dilakukan.
- Mengalami kebingungan dalam menjalankan rutinitas sehari-hari.
- Mengalami perubahan perilaku atau kepribadian yang tidak biasa.
- Kesulitan mengelola aktivitas mandiri, termasuk menyiapkan makanan.
Majid Fotuhi mengingatkan bahwa perubahan perilaku makan yang menetap perlu dievaluasi secara medis, bukan hanya ditebak penyebabnya.
Pemeriksaan dapat membantu dokter menilai apakah perubahan tersebut berkaitan dengan demensia, efek obat, gangguan suasana hati, kekurangan nutrisi, atau kondisi kesehatan lainnya.
Hingga saat ini, penanganan demensia disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing pasien. Sebagian terapi dapat membantu mengendalikan gejala atau memperlambat perkembangan penyakit tertentu, sementara dukungan keluarga dan penyesuaian aktivitas sehari-hari berperan penting dalam menjaga kualitas hidup.
Dengan mengenali perubahan sejak dini dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, keluarga dapat membantu lansia memperoleh pemeriksaan serta dukungan yang sesuai.

