JAKARTA — Nasi sisa semalam yang disimpan di kulkas sering diolah kembali menjadi nasi goreng. Selain praktis, nasi yang telah didinginkan juga kerap dikaitkan dengan kandungan pati resisten yang berpotensi membantu mengurangi respons kenaikan gula darah setelah makan. Namun, apakah nasi goreng yang dibuat dari nasi dingin benar-benar lebih sehat?

Ahli gizi Adisty Pavitasari menjelaskan bahwa nasi yang telah didinginkan dapat mengandung pati resisten. Jenis pati ini cenderung lebih tahan terhadap proses pencernaan di usus halus dibandingkan pati yang mudah dicerna.

Menurut Adisty, proses pemanasan kembali tidak serta-merta menghilangkan seluruh pati resisten yang terbentuk selama pendinginan nasi.

“Pati resisten pada nasi dingin cenderung memiliki sifat termostabil atau sangat tahan panas. Jika nasi dingin dipanaskan kembali dengan suhu penghangatan biasa, dan tanpa tambahan air, kandungan pati resistennya tidak sepenuhnya hilang,” kata Adisty ketika dihubungi, Senin (19/10/2026).

Ia juga menjelaskan bahwa nasi dingin yang dihangatkan kembali berpotensi memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan nasi yang baru matang. Indeks glikemik (IG) merupakan ukuran untuk menggambarkan seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat meningkatkan kadar gula darah.

Meski demikian, besarnya pengaruh nasi dingin terhadap respons gula darah dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis beras, cara pengolahan, porsi makan, dan makanan lain yang dikonsumsi bersamanya.

Apakah Kandungan Gizi Nasi Goreng Berubah?

Menurut Adisty, kondisi nasi yang digunakan, baik nasi dingin maupun nasi hangat, bukan satu-satunya faktor yang menentukan kandungan gizi nasi goreng.