Program yang baik harus berani diuji.
Harus berani dikritik.
Harus berani dievaluasi.
Dan harus berani diperbaiki.
Suara Mahasiswa Papua
Maka suara kami sederhana:
Jangan hanya beri kami program; dengarkan kebutuhan kami. Jangan hanya hitung jumlah penerima; ukur perubahan kehidupan mereka.
Jangan hanya kejar target penyaluran; pastikan keselamatan penerima.
Jangan hanya membangun dari pusat; bangun bersama daerah. Jangan hanya berbicara tentang Papua; dengarkan orang Papua.
Dan kepada pemerintah daerah Papua, kami menyampaikan: “Jangan menjadi sekadar perpanjangan tangan kebijakan pusat. Jadilah pembela kebutuhan rakyat di daerah.”
Sebab pemerintah daerah yang baik bukan pemerintah yang paling banyak meluncurkan program, melainkan pemerintah yang paling mampu membaca kebutuhan rakyatnya. Pada akhirnya, persoalan MBG membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar:
Untuk siapa pembangunan ini dibuat?
Siapa yang menentukan kebutuhannya?
Siapa yang mengawasinya?
Dan siapa yang bertanggung jawab ketika rakyat menjadi korban?
Bagi kami, mahasiswa Papua:
“Pembangunan tanpa partisipasi adalah keputusan yang berjalan tanpa telinga.
Kebijakan tanpa evaluasi adalah kekuasaan tanpa cermin. Dan pembangunan tanpa kemanusiaan adalah kemajuan yang kehilangan arah.”
Papua tidak membutuhkan pembangunan yang hanya terlihat dari jauh. Papua membutuhkan pembangunan yang dirasakan dari dekat.
Karena tugas pemerintah bukan sekadar membuat rakyat menerima program. Tugas pemerintah adalah memastikan rakyat benar-benar merasakan manfaatnya.

