Pembangunan Tidak Boleh Hanya Diukur dari Anggaran
Kami juga ingin mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh diukur hanya dari besarnya anggaran, banyaknya proyek, atau jumlah program yang diluncurkan.
Pembangunan harus diukur dari manusia.
Apakah anak menjadi lebih sehat?
Apakah sekolah menjadi lebih layak?
Apakah guru tersedia?
Apakah akses pendidikan semakin terbuka?
Apakah keluarga semakin aman?
Apakah masyarakat semakin bermartabat?
Jangan membangun narasi “generasi emas” di atas realitas anak-anak yang masih kesulitan memperoleh sekolah, guru, transportasi, fasilitas belajar, internet, beasiswa, asrama atau pemondokan, dan layanan kesehatan.
Anak tidak hanya membutuhkan makanan untuk tumbuh. Ia membutuhkan pendidikan untuk memahami dunia dan keadilan untuk menentukan masa depannya.
Kritik Bukan Ancaman bagi Negara
Kami tidak ingin kritik mahasiswa, guru, siswa, atau masyarakat terhadap kebijakan publik dianggap sebagai gangguan.
Kritik adalah alarm demokrasi.
Ketika rakyat bertanya, negara seharusnya tidak takut.
Ketika mahasiswa mengkritik, pemerintah seharusnya tidak defensif. Sebab kebijakan yang sehat bukan kebijakan yang tidak pernah dikritik, melainkan kebijakan yang mampu menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.
Kami tidak menolak pembangunan.
Kami menolak pembangunan yang tidak mendengarkan manusia yang hendak dibangun. Kami tidak menolak program pemerintah.
Kami menolak anggapan bahwa sebuah program pasti berhasil hanya karena berasal dari pemerintah.

