JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memasuki fase yang kian mengkhawatirkan. Hingga Juli 2026, luas areal yang terbakar telah mencapai 202.004,30 hektare, meningkat sekitar 69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Rabu(30/9/26). 

Di tengah ancaman cuaca kering yang masih berlangsung, Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas periode 2026–2028 mendesak pemerintah tidak lagi menjadikan karhutla sebagai bencana musiman yang baru ditangani setelah api meluas.

PMKRI menyerukan penguatan pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, hingga pemulihan ekosistem secara terpadu. Organisasi mahasiswa Katolik itu juga mendorong gerakan pertobatan ekologis dengan semangat Laudato Si’.

Data SiPongi+ Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Lonjakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap ekosistem masih serius, terlebih risiko kebakaran belum sepenuhnya berakhir.

Sedangkan BMKG pada September 2026 masih mencatat kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat. Pada dasarian II September, indeks ENSO berada di angka 2,63, sementara Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase positif.

Kondisi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya kekeringan dan risiko kebakaran, terutama di wilayah yang mengalami periode tanpa hujan cukup panjang. BMKG juga memperkirakan El Niño masih dapat bertahan hingga awal 2027.

Sejumlah wilayah seperti Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua Selatan masih menghadapi ancaman hotspot dan kondisi kering.

Bukan Sekadar Api

Ketua Presidium PP PMKRI periode 2026–2028, Christian A. D. Rettob, menilai karhutla tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan cuaca maupun kehutanan.