JAKARTA – Mamografi selama ini dikenal sebagai pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan pada payudara, termasuk kanker payudara. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa gambar mamografi juga berpotensi digunakan untuk mengidentifikasi penyakit kardiovaskular pada perempuan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).

Penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Tel Aviv University dan Chaim Sheba Medical Center tersebut menunjukkan bahwa model deep learning mampu mengidentifikasi tanda yang berkaitan dengan tiga kondisi kardiovaskular, yakni hipertensi, penyakit jantung iskemik atau penyakit jantung koroner, dan stroke.

Temuan tersebut dipresentasikan pada ESC Congress 2026 di Munich, Jerman. Penelitian ini menggunakan data dari 29.921 perempuan yang menjalani total 97.364 pemeriksaan mamografi, dengan usia rata-rata atau median sekitar 54 tahun.

AI Analisis Mamografi untuk Deteksi Penyakit Jantung

Para peneliti menggabungkan gambar mamografi dengan informasi klinis mengenai hipertensi, penyakit jantung iskemik, dan stroke. Informasi tersebut diperoleh dari rekam medis elektronik, resep obat, pemeriksaan pencitraan, prosedur medis, serta catatan pengukuran di rumah sakit.

Dari keseluruhan data, prevalensi hipertensi mencapai 16 persen, sedangkan penyakit jantung iskemik dan stroke masing-masing sebesar 2,5 persen.

Peneliti kemudian mengembangkan model deep learning berbasis convolutional neural network (CNN) untuk mengenali pola pada gambar mamografi yang berkaitan dengan ketiga kondisi tersebut.

Kemampuan model diukur menggunakan area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). Nilai 0,5 menunjukkan kemampuan setara tebakan acak, sedangkan 1,0 menunjukkan kemampuan diskriminasi sempurna.

Hasil awal menunjukkan performa yang cukup baik. Model menghasilkan AUROC sebesar 0,79 untuk hipertensi, 0,78 untuk penyakit jantung iskemik, dan 0,86 untuk stroke. Hasil tersebut tetap konsisten ketika peneliti mempertimbangkan status kanker dan usia.

Namun, temuan tersebut belum berarti mamografi dapat menggantikan pemeriksaan jantung. Penelitian ini merupakan studi retrospektif dan teknologi AI tersebut masih dikembangkan untuk meningkatkan akurasi sekaligus mengurangi hasil positif maupun negatif yang keliru.

Salah satu peneliti, Viana Copeland, mengungkapkan alasan metode deteksi baru untuk penyakit kardiovaskular pada perempuan diperlukan.

“Meskipun menjadi penyebab utama kematian pada perempuan di seluruh dunia, penyakit kardiovaskular secara konsisten kurang terdiagnosis dan kurang diobati,” ujarnya, seperti diberitakan The Independent.

Copeland mengatakan banyak perempuan baru mencari bantuan medis ketika penyakit kardiovaskular sudah berkembang lebih lanjut.

“Di sisi lain, banyak perempuan mengikuti skrining kanker payudara rutin, bahkan ketika mereka belum mencari perawatan untuk gejala kardiovaskular,” kata Copeland.

Karena itu, para peneliti mengeksplorasi kemungkinan menggunakan pemeriksaan mamografi yang sudah rutin dilakukan sebagai sumber informasi tambahan mengenai kesehatan kardiovaskular.

European Society of Cardiology menyebut pendekatan tersebut berpotensi membuat mamografi rutin juga dapat membantu menandai perempuan yang mungkin membutuhkan pemeriksaan kardiovaskular lebih lanjut.