Jakarta — Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) mengungkap peluang Indonesia mengakses pendanaan kebencanaan melalui program The Fund for Responding to Loss and Damage (FRLD) yang dikelola Bank Dunia.

Direktur Utama BPDLH Joko Tri Haryanto mengatakan pihaknya sedang mengajukan dua proposal untuk mengakses pendanaan tersebut. Kedua proposal disusun dengan pendekatan berbeda, yakni untuk penanganan bencana di wilayah daratan dan pesisir.

Proposal tersebut mencakup dua pendekatan pembiayaan, yaitu pemulihan setelah bencana dan mitigasi untuk mengurangi risiko sebelum bencana terjadi.

Menurut Joko, langkah tersebut ditempuh karena mekanisme FRLD masih dalam tahap pengembangan. Batas antara pendanaan untuk kehilangan dan kerusakan dengan pendanaan adaptasi juga belum sepenuhnya jelas.

“Karena mekanisme FRLD masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya jelas mengenai batasannya dengan pendanaan adaptasi, kami mengambil pendekatan dengan mengajukan dua proposal,” kata Joko dalam acara Ford Foundation Journalist Crash Course: Menjembatani Kesenjangan Akses Pembiayaan Iklim Berkeadilan di Jakarta, Kamis (3/9).

Pengajuan dua proposal tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia mencari skema pendanaan yang dapat digunakan untuk menghadapi risiko bencana, baik setelah kejadian maupun melalui langkah mitigasi.

Indonesia Tawarkan Skema Blended Finance

Selain mengajukan proposal pendanaan, BPDLH melihat peluang menggunakan skema blended finance. Skema ini menggabungkan pendanaan dari FRLD dengan sumber dana yang sudah dimiliki Indonesia.

Dengan pendekatan tersebut, Indonesia tidak hanya mengajukan bantuan, tetapi juga menawarkan modal dari dalam negeri. Tujuannya untuk memperbesar kapasitas pembiayaan dalam menghadapi risiko bencana.

Salah satu sumber dana yang dapat digunakan adalah dana abadi kebencanaan yang dikelola BPDLH.

“Di BPLDH kami mengelola dana abadi kebencanaan, jadi kalau proposal negara lain mungkin mereka hanya minta, tapi enggak punya modal, kita menawarkan blended. Jadi, kita tidak hanya minta, kita nawarin blended investasi,” imbuh Joko.

Joko mengatakan keberadaan dana abadi tersebut menjadi salah satu pembeda pendekatan Indonesia dengan negara lain yang mengajukan pendanaan melalui mekanisme serupa.

Sebelumnya, BPDLH juga telah mengelola dana bersama penanggulangan bencana yang bersumber dari APBN dan hasil investasi.