Sementara itu, Head of Corporate Communication PT Blue Bird Tbk, Sekar Adisty Prabandari, mengingatkan pentingnya respons yang transparan dan empatik ketika organisasi menghadapi persoalan, disertai perbaikan layanan.

Kedua perspektif tersebut menegaskan bahwa reputasi institusi tidak hanya dibentuk melalui cara organisasi berkomunikasi, tetapi juga melalui tindakan dan tanggung jawab yang ditunjukkan kepada publik.

Regenerasi Humas Perlu Diiringi Kesiapan Teknologi

Selain komunikasi digital dan pengelolaan krisis, keberlanjutan profesi humas juga bergantung pada kesiapan generasi muda mengambil peran kepemimpinan.

Ketua PERHUMAS Muda Jakarta Raya 2024-2025, Andi Raviali Ramadhan, menilai estafet kepemimpinan perlu dimaknai sebagai proses meneruskan nilai dan tanggung jawab profesi, bukan sekadar pergantian generasi.

Executive Director LSPR Institute of Communication and Business, Ghina Amani Kemal Gani, menyatakan bahwa reputasi yang telah dibangun tidak menjamin keberlanjutan pada masa depan. Organisasi tetap perlu merawat reputasinya melalui keputusan yang bertanggung jawab dan keberanian beradaptasi.

“Estafet kepemimpinan berarti menjaga fondasi yang telah dibangun sekaligus memastikan warisan tersebut tetap relevan bagi generasi berikutnya,” kata Ghina.

Dalam konteks tersebut, kemampuan memahami kecerdasan buatan (AI literacy), membaca data (data literacy), serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan etis dinilai menjadi bekal penting bagi praktisi humas muda.

Kemampuan tersebut diperlukan agar praktisi dapat memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa mengabaikan akurasi informasi dan tanggung jawab kepada publik.

Literasi Data Menjadi Bagian dari Komunikasi Profesional

Kemampuan mengolah informasi menjadi pesan yang bermakna turut dibahas dalam sesi aktivasi bersama jurnalis data Katadata.co.id, Reza Aji Pratama, dan Lead of Design Team Katadata Creative Studio, Muhamad Yana.