Pandangan tersebut sejalan dengan kreator konten lingkungan Jerhemy Owen, yang menekankan bahwa viralitas merupakan langkah awal untuk mendorong perubahan. Perhatian publik perlu diarahkan pada tindakan yang memberikan manfaat nyata.

“Dampak baru terjadi ketika perhatian diterjemahkan menjadi perubahan perilaku dan aksi nyata,” kata Jerhemy.

CEO & Founder JEJAKIN, Arfan Arlanda, menambahkan bahwa upaya tersebut perlu disertai pengukuran yang jelas. Dengan demikian, keberhasilan komunikasi tidak hanya dinilai dari luasnya jangkauan pesan, tetapi juga dari perubahan yang dapat dibuktikan.

Reputasi Organisasi Dibangun melalui Tindakan

Pembahasan mengenai kepercayaan publik juga mencakup pengelolaan reputasi ketika organisasi menghadapi kesalahan atau krisis. Dalam situasi tersebut, klarifikasi saja tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan. Organisasi perlu memastikan adanya konsistensi antara pesan yang disampaikan dan tindakan yang dilakukan.

Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat PERHUMAS, Direktur Operasional ITDC, sekaligus Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, Troy Reza Warokka, mencontohkan pengelolaan reputasi destinasi The Mandalika.

Menurut Troy, reputasi destinasi membutuhkan konsistensi informasi, kesiapan operasional, koordinasi pemangku kepentingan, dan pengalaman nyata pengunjung.

“Kepercayaan tidak hanya dibangun melalui promosi dan citra positif, melainkan juga konsistensi informasi, kesiapan operasional, koordinasi pemangku kepentingan, dan pengalaman nyata pengunjung,” kata Troy.