Mengutip Royal Osteoporosis Society, sejumlah kondisi yang dapat berkontribusi terhadap osteoporosis pada anak meliputi:

  • Penyakit peradangan, seperti artritis juvenil dan penyakit Crohn.

  • Gangguan nutrisi, termasuk anoreksia dan kondisi yang menyebabkan asupan zat gizi tidak mencukupi.

  • Gangguan hormon, seperti pubertas terlambat atau rendahnya kadar hormon seks.

  • Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid dosis tinggi dalam jangka panjang.

  • Keterbatasan mobilitas, misalnya akibat cerebral palsy, cedera sumsum tulang belakang, atau distrofi otot Duchenne.

  • Penyakit dan gangguan lainnya, seperti leukemia, penyakit ginjal, serta gangguan endokrin.

Meski memiliki kondisi tersebut, tidak semua anak akan mengalami osteoporosis. Risiko setiap anak berbeda-beda, bergantung pada penyakit yang mendasari, pengobatan, status nutrisi, aktivitas fisik, dan faktor kesehatan lainnya.

Karena itu, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila anak memiliki penyakit kronis, menggunakan obat tertentu dalam jangka panjang, atau mengalami patah tulang berulang.

Lima Tanda Patah Tulang pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Patah tulang atau fraktur pada anak tidak selalu mudah dikenali. Anak yang masih kecil mungkin kesulitan menjelaskan lokasi dan tingkat nyeri yang dialaminya.

Mengutip informasi kesehatan dari HealthyChildren, terdapat sejumlah tanda yang dapat membantu orang tua mengenali kemungkinan patah tulang.

1. Bengkak pada bagian yang cedera

Bagian tubuh yang mengalami patah tulang dapat terasa nyeri dan membengkak. Anak juga mungkin enggan menggunakan atau menggerakkan lengan maupun tungkai yang cedera.