Selain itu, satu atau lebih fraktur kompresi tulang belakang yang terjadi tanpa trauma berat atau penyakit lokal yang menjadi penyebabnya juga dapat menunjukkan osteoporosis pada anak, meskipun nilai skor-Z masih berada dalam batas normal.

Penilaian tersebut perlu dilakukan oleh tenaga medis dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan penunjang. Jumlah patah tulang saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis secara mandiri.

Penyebab dan Faktor Risiko Osteoporosis pada Anak

Osteoporosis pada anak secara umum dibedakan menjadi dua jenis, yaitu osteoporosis primer dan sekunder.

1. Osteoporosis primer

Osteoporosis primer berkaitan dengan kelainan yang secara langsung memengaruhi kekuatan tulang, termasuk kelainan genetik yang menyebabkan tulang lebih mudah mengalami kerapuhan.

Beberapa kondisi yang berkaitan dengan osteoporosis primer antara lain:

  • Osteogenesis imperfecta (OI), yaitu kelainan genetik yang menyebabkan tulang mudah patah.

  • Sindrom Ehlers-Danlos, kelompok kelainan jaringan ikat yang dapat memengaruhi sejumlah bagian tubuh.

  • Sindrom Marfan, kelainan jaringan ikat yang dapat memengaruhi tulang dan struktur tubuh lainnya.

Selain itu, terdapat osteoporosis juvenil idiopatik, yaitu kondisi osteoporosis pada anak yang penyebab pastinya belum diketahui. Kondisi ini dapat ditandai dengan nyeri tulang, perubahan bentuk tulang, patah tulang, dan rendahnya densitas mineral tulang.

2. Osteoporosis sekunder

Osteoporosis sekunder terjadi ketika penyakit tertentu atau pengobatan memengaruhi pembentukan, penyerapan kembali, maupun mineralisasi tulang.