Rencana tersebut memunculkan perbandingan antara MotoGP dan F1 karena keduanya merupakan kejuaraan balap internasional dengan popularitas global. Namun, perkembangan rencana F1 di Rwanda tidak serta-merta berarti MotoGP akan mengikuti langkah serupa.

Meski sama-sama berada di bawah naungan Liberty Media, kedua kejuaraan memiliki kebutuhan teknis dan persyaratan penyelenggaraan yang berbeda.

Liberty Media mengakuisisi MotoGP pada 2025, sedangkan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut telah menaungi F1 sejak 2017. Kepemilikan yang sama membuat kedua kejuaraan kerap dibandingkan, termasuk dalam pembahasan mengenai perluasan kalender balapan ke wilayah baru.

Homologasi FIM Jadi Salah Satu Pertimbangan

Untuk menggelar MotoGP, sebuah sirkuit harus memenuhi persyaratan keselamatan dan teknis yang ditetapkan FIM. Karena itu, sirkuit yang dibangun untuk Formula 1 belum tentu dapat langsung digunakan untuk balapan motor.

Kesesuaian lintasan, fasilitas keselamatan, dan persyaratan homologasi menjadi aspek penting sebelum suatu sirkuit dapat menggelar Grand Prix MotoGP.

Dengan belum adanya proyek MotoGP di fasilitas Bugesera yang disebut dalam laporan GPOne, rencana kembalinya kejuaraan tersebut ke Afrika belum terlihat dalam waktu dekat. Sementara itu, rencana F1 di Rwanda masih dijadwalkan berlangsung pada awal 2030-an.