Dalam produksi tersebut, Ikhwan mengambil posisi sebagai produser. Peran itu tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan teknis pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari evaluasi terhadap tata kelola komunitas.

Menurut dia, Bhavana masih harus membenahi sejumlah persoalan manajerial agar kegiatan berkesenian tidak hanya bergantung pada semangat berkarya. Komunitas juga membutuhkan sistem yang memungkinkan produksi terus berjalan dan kelompok dapat bertahan dalam jangka panjang.

Produksi Domba-Domba Revolusi kemudian dijalankan dengan mekanisme yang diupayakan mandiri. Bhavana mencari tempat pertunjukan, memproduksi karya, menjual tiket, sekaligus membangun penonton.

Bagi mereka, proses tersebut merupakan gambaran kecil tentang pemajuan kebudayaan yang ingin dibangun.

Komunitas seni, menurut Bhavana, tidak semestinya hanya menjadi objek yang menunggu program pemerintah. Komunitas juga dapat menjadi pelaku yang menciptakan karya, mencari sumber pembiayaan, membangun pasar, mengembangkan penonton, dan menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi.

Karena itu, ketika pemerintah meminta pelaku seni memikirkan arah kebudayaan Bungo, Bhavana justru mengembalikan pertanyaan tersebut kepada apa yang sudah ada.

Bagi mereka, pemajuan kebudayaan tidak selalu berarti membawa kebudayaan Bungo ke tempat yang baru. Pemajuan juga berarti memastikan komunitas yang sudah bekerja hari ini memiliki ruang untuk berkarya, penonton untuk menikmati karya, sumber pembiayaan untuk menjalankan produksi, serta ekosistem yang memungkinkan kesenian terus hidup.