Ikhwan menegaskan, dorongan terhadap pemerintah bukan berarti meminta perhatian hanya untuk Teater Bhavana.

Justru, menurut dia, semakin banyak komunitas seni yang mampu memproduksi pertunjukan akan semakin baik bagi perkembangan kesenian di Bungo.

Ia menilai ekosistem seni tidak akan tumbuh jika hanya satu kelompok yang aktif membuat pertunjukan. Masyarakat membutuhkan pilihan agar semakin banyak bentuk karya yang dapat mereka kenal dan nikmati.

“Kesimpulannya bukan seberapa banyak penonton Bhavana, tapi seberapa banyak orang yang sudah menonton teater,” ujarnya.

Menurut Ikhwan, ukuran keberhasilan pemajuan teater bukan hanya jumlah penonton dalam satu pertunjukan. Hal yang lebih penting adalah bertambahnya masyarakat yang mengenal teater dan memiliki pengalaman menikmati pertunjukan.

Ia mengibaratkannya seperti sebuah toko yang hanya menyediakan satu merek. Jika hanya ada satu pilihan, masyarakat tidak memiliki banyak alternatif. Begitu pula dengan teater. Semakin banyak kelompok yang memproduksi pertunjukan, semakin besar kesempatan masyarakat mengenal beragam karya.

Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya mengundang komunitas seni untuk mengisi acara. Pemerintah juga perlu mendorong komunitas membuat produksi sendiri, membangun pasar, dan mengembangkan penonton.

Persoalan penonton tersebut berkaitan pula dengan keterlibatan generasi muda. Dramaturg Teater Bhavana, Fadhil Dirgananda, mengatakan persoalan kebudayaan tidak cukup diukur dari jumlah pertunjukan atau penonton.

Menurut dia, yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat mengetahui, mengenal, dan terlibat dalam kesenian.