“Generasi muda sekarang sudah tidak peduli tentang kesenian sama kebudayaan,” kata Fadhil.

Namun, kondisi yang mereka temui saat pementasan Domba-Domba Revolusi justru memberikan gambaran berbeda. Dari perkiraan Bhavana, sekitar 75 persen penonton pertunjukan tersebut merupakan remaja. Sebanyak 15 persen berasal dari kalangan seniman dan 10 persen lainnya masyarakat umum.

Bagi Fadhil, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan generasi muda dan kesenian tidak sesederhana anggapan bahwa anak muda tidak tertarik pada kebudayaan.

Menurut dia, persoalannya juga terletak pada minimnya ruang yang memungkinkan masyarakat mengenal dan mengalami kesenian secara langsung.

Fadhil menilai seni selama ini lebih sering muncul ketika ada acara. Padahal, kesenian membutuhkan ruang yang lebih berkelanjutan agar masyarakat dapat mengenal, mengalami, sekaligus mempelajarinya.

“Ruang-ruang yang disediakan itu memang tidak ada,” jawabnya.

Kondisi tersebut, kata Fadhil, pada akhirnya bukan hanya persoalan jumlah penonton. Keberlangsungan komunitas seni juga dipertaruhkan ketika ruang berkesenian tidak tersedia.

“Kami ingin membangun satu buah ekosistem yang baru,” bebernya.

Ekosistem baru yang dimaksud bukan menghapus kebudayaan yang sudah ada. Tantangannya adalah menyesuaikan kesenian dengan perubahan zaman tanpa membuatnya kehilangan tempat di tengah masyarakat.

Salah satu upaya yang disiapkan Bhavana adalah memanfaatkan teknologi digital. Setelah pementasan Domba-Domba Revolusi, kelompok tersebut berencana merekam pertunjukan secara utuh dan mendistribusikannya melalui platform digital mereka sendiri.