Rekaman itu nantinya dapat dikembangkan dengan sistem berbayar atau berlangganan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Bhavana memperluas akses terhadap pertunjukan sekaligus membangun basis penonton di luar ruang pertunjukan.

“Kami tidak menolak teknologi. Justru lebih ke melebur,” jelas Ikhwan.

Bagi Bhavana, teknologi bukan pengganti pertunjukan langsung. Digitalisasi justru dipandang sebagai cara untuk menjembatani panggung dengan kebiasaan masyarakat yang semakin dekat dengan perangkat digital.

Pertunjukan langsung tetap dianggap penting, terutama untuk memperkenalkan teater kepada generasi muda di Bungo. Fadhil menyebut panggung teater sebagai salah satu jembatan untuk kembali mendekatkan masyarakat dengan kesenian.

“Ini salah satu jembatan yang bisa dikatakan meskipun lapuk kayunya atau jembatannya memang gampang hancur, tetapi itu sesuatu yang harus kami bangun ulang,” ujar Fadhil.

Sementara itu, Domba-Domba Revolusi sendiri merupakan produksi yang telah lama direncanakan Bhavana. Naskah tersebut dipersiapkan sejak sekitar tiga tahun lalu dan awalnya diproyeksikan menjadi pertunjukan pertama kelompok tersebut.

Namun, Bhavana kemudian memilih mementaskan Puisi-Puisi Cinta karya W.S. Rendra sebagai produksi awal. Rencana pementasan Domba-Domba Revolusi pun tertunda hingga akhirnya diwujudkan sebagai produksi tunggal kedua.

Ikhwan menyebut ada semacam “utang mental” terhadap karya tersebut. Setelah tiga tahun, utang itu akhirnya dibayar melalui pementasan pada akhir Agustus lalu.