Sekolah harus menjadikan pendidikan kebencanaan sebagai bagian dari pembelajaran nyata.

Pemerintah dan masyarakat perlu memastikan jalur evakuasi, sistem peringatan, serta infrastruktur keselamatan benar-benar berfungsi.

Keluarga pun harus memiliki rencana sederhana: apa yang dilakukan ketika gempa terjadi, ke mana harus berkumpul, dan siapa yang harus dihubungi.

Bencana memang tidak selalu dapat dicegah.

Namun, dampaknya dapat dikurangi.
Inilah perbedaan penting antara pasrah dan siap.

Pasrah berarti menunggu sesuatu terjadi tanpa melakukan apa-apa. Sementara siap berarti menyadari risiko, mempersiapkan diri, dan bertindak berdasarkan pengetahuan. Dalam menghadapi ancaman gempa, kesiapsiagaan adalah bentuk paling rasional dari keberanian.

Karena itu, ketika isu megathrust kembali menjadi pembicaraan, kita seharusnya tidak hanya bertanya, “Kapan gempa besar akan terjadi?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Apakah kita sudah siap jika suatu hari itu benar-benar terjadi?”

Barangkali, di situlah pekerjaan rumah terbesar kita sebagai bangsa. Indonesia akan tetap berada di kawasan Ring of Fire.

Lempeng bumi akan terus bergerak. Gunung api akan tetap menjadi bagian dari lanskap negeri ini. Kita tidak bisa mengubah kenyataan geografis tersebut. Tetapi kita bisa mengubah cara kita meresponsnya.

Kecemasan tidak akan menghentikan gempa. Kepanikan tidak akan menyelamatkan siapa pun. Namun pengetahuan, kesiapan, dan kepedulian dapat mengurangi risiko.
Maka, jangan biarkan informasi tentang potensi bencana hanya menjadi bahan percakapan sesaat atau sumber ketakutan di media sosial.