Di situlah pentingnya kesiapsiagaan.
Hal-hal sederhana dapat menjadi pembeda antara kepanikan dan keselamatan. Mengenali jalur evakuasi di rumah, sekolah, kantor, maupun lingkungan tempat tinggal adalah langkah awal. Menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat-obatan, makanan, air, dan perlengkapan darurat bukanlah tindakan berlebihan. Melakukan simulasi bersama keluarga pun bukan sekadar formalitas.

Kita juga perlu memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi. Prinsip drop, cover, and hold on—merunduk, berlindung, dan berpegangan—harus menjadi pengetahuan dasar, bukan istilah asing yang baru dicari ketika keadaan sudah darurat.

Lebih dari itu, masyarakat perlu belajar membedakan informasi ilmiah dan informasi yang memicu kepanikan.
Di era media sosial, satu unggahan dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Informasi mengenai gempa, megathrust, atau tsunami sering dibumbui dengan judul dramatis. Ketakutan kemudian menjadi komoditas. Padahal, informasi kebencanaan seharusnya memperkuat kesiapan masyarakat, bukan melemahkan ketenangan mereka.

Kita membutuhkan literasi kebencanaan yang matang: kemampuan untuk memahami risiko tanpa menjadi panik, menerima kenyataan tanpa menyerah, serta bersiap tanpa harus hidup dalam kecemasan. Sebab, hidup di wilayah rawan bencana bukan berarti hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap hari. Justru sebaliknya.

Kesadaran bahwa kita hidup di wilayah dengan aktivitas geologi tinggi seharusnya membentuk masyarakat yang lebih tangguh.