JAKARTA – Pemerintah mengandalkan berbagai upaya untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menyebut operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya yang dinilai efektif untuk membantu menangani karhutla.

Menurut Djamari, pemerintah telah mengerahkan berbagai langkah melalui operasi udara maupun operasi darat. Untuk operasi udara, pemerintah mengerahkan sekitar 43 helikopter serta 10 hingga 15 pesawat fixed-wing yang dapat dikerahkan sesuai kebutuhan.

“Melihat situasi seperti sekarang ini, upaya yang paling tepat, operasi yang paling tepat dilakukan adalah yang efektif, yang efektif, operasi udara sebenarnya sangat efektif. Menimbulkan hujan buatan yang dilakukan oleh BMKG dan BNPB, itu yang paling tepat, paling efektif,” kata Djamari dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (10/8).

Namun, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan setiap saat. Salah satu syarat utamanya adalah adanya awan hujan yang dapat menjadi target penyemaian.

OMC Karhutla Bergantung pada Awan Hujan

Djamari menjelaskan pemerintah tidak dapat melakukan operasi modifikasi cuaca apabila tidak menemukan awan hujan yang sesuai.

“Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi yaitu kita menemukan ada awan hujan, istilahnya awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan,” kata dia.

Karena itu, pemerintah terus memantau perubahan kondisi cuaca untuk menentukan waktu yang memungkinkan dilakukannya operasi modifikasi cuaca.

“Untuk itu maka kita mewaspadai betul perubahan cuaca sedikit apapun yang kira-kira akan memunculkan awan hujan segera kita melakukan operasi modifikasi cuaca,” lanjutnya.

Keterangan tersebut sejalan dengan penjelasan BMKG bahwa pelaksanaan OMC membutuhkan dukungan informasi cuaca dan potensi pertumbuhan awan. Ketika awan potensial tidak terbentuk, penyemaian tidak dapat dilakukan secara efektif.